Popular Posts

Sabtu, 12 November 2011

Sejarah Vespa, bagian 2: Bertahan dari gempuran Jepang


Tahun 1965 Enrico Piaggio meninggal pada usia 60 tahun dan penerusnya adalah anak besannya Umberto Agnelli. Keluarga Agnelli adalah pengelola Fiat, pengusaha otomotif besar dan konglomerat Italy. Nantinya Umberto menjadi managing director perusahaan tersebut. Dunia scooter menjadi kurang begitu baik pada akhir 1950an, terutama di kalangan muda. Walau produksi masih cukup baik, sekitar 1970 an perusahaan juga dihantam banyak krisis pekerja. Bahkan pemogokan sempat membuat kapasitas produksi menjadi tiga perempat dari total di tahun 1979. Biaya produksi menjadi tinggi, perusahaan banyak keluar investasi untuk merancang produk baru, di tambah biaya akusisi Gilera.
1978 Vespa P200E
1978 Vespa P200E
Di US pun penjualan Vespa tidak begitu baik, Piaggio masuk US di awal 1950an tapi angka penjualan tidak pernah tinggi dan sekitar tahun 1982 Piaggio menstop export ke US karena tidak sanggup mengikuti aturan ketat US tentang polusi. Sementara Piaggio mengeksport sekitar 17.000 an scooter ke Jepang sekitar awal 1980an, sampai pertengahan 1980an.
Sementara itu  perusahaan motor Jepang, Honda, Yamaha, Suzuki mulai tumbuh dengan pesat. Motor Jepang yang lebih murah, lebih ringan cepat digemari dan akhirnya membuat banyak perusahaan motor dari Eropa melesu. Tahun 1981 Piaggio melakukan kerjasama dengan Peugeot untuk membuat motor dan moped, dengan harapan bisa membuat produk baru untuk menahan gempuran produk motor Jepang.
Vespa PX 125 1979
Vespa PX 125 1979
Meskipun demikian terus mengecilnya pasar Eropa untuk roda dua melambatkan pengembagan Piaggio pada pertengahan 1980an. Tahun 1980 Piaggio menjual 937.000 kendaraan, sementara 1984 mereka tinggal menjual 553.000. Tahun 1984, Giorgio Brazzelli mengambil alih perusahaan dengan menjadi Managing Director yang baru. Brazelli punya pandangan kalau penurunan angka penjualan akibat pasar yang terus mengecil adalah sesuatu yang permanen sehingga ia hanya memposisikan Piaggio untuk bertahan. Di matanya perusahaan harus menurunkan biaya produksi agar tetap meraih keuntungan, selama 3 tahun berikutnya perusahaan tidak mengalami keuntungan, sampai tahun 1986 dimana bisa menghasilkan keuntungan sebesar 11.05 USD, keuntungan tersebut banyak dihasilkan dari bagian komponen dan suku cadang.
Perusahaan melakukan banyak pengembangan usaha di akhir 1980, memperbesar investasi untuk membuat komponen mobil dan industri lain yang berhubungan dengan otomotif. Piaggio juga bekerja sama dengan Kolbenschmid, perusahaan dari Jerman untuk memproduksi pompa air dan pompa oli untuk pertambangan di Itali dan Perancis. Tahun 1991 Piaggio juga bekerja sama dengan Daihatsu untuk memproduksi kendaraan angkutan ringan. Piaggio juga mencoba meluaskan pasar ke Cina dengan melakukan kerjasama dengan perusahaan Hong Kong di tahun 1993.
Vespa Corsa atau diluar dikenal Vespa PK. Lahir 1984 di Italy, di produksi Dan Motor 1991
Walau telah banyak melakukan diversifikasi dan banyak melakukan terobosan kerjasama, Piaggio belum berhasil lolos dari keadaan market yang makin mengecil. Pada tahun 1990an, market share Piaggio di Eropa menurun hingga sekitar 28 persen, karena serbuan import dari Jepang. Tahun 1993 Piaggio merugi sekitar 60 juta USD dan pada tahun tersebut Piaggio punya boss baru, Giovanni Agneli anak dari Umberto Agnelli yang wakut itu baru berumur 29 tahun. Agnelli yang tumbuh dan bersekolah di US, sebelumnya pernah bekerja di IBM dan anak perusahaan Fiat. Dia melihat bahwa ketika itu perusahaan kehlangan fokus akibat diversivikasi. Agnelli akhirnya menjual perusahaan komponen yang kurang menguntungkan dan melakukan pengembangan produk scooter baru…
Berhasilkah langkah Agnelli?
Tunggu saja part 3 nya…

0 komentar:

Posting Komentar